Tradisi Kehangatan Awal Hijriyah di Kota Pekalongan
Sebagai kota yang dikenal dunia karena keindahan helai kain batiknya, Pekalongan punya sisi magis lain yang tak kalah memikat: nafas religiusitasnya. Saat kalender Hijriyah berganti menyambut bulan Muharram (atau sasi Suro dalam kalender Jawa), Kota Kreatif Dunia versi UNESCO ini seolah bersolek dengan atmosfer spiritual yang begitu kental namun tetap hangat dan guyub.
Bagi masyarakat Pekalongan, awal tahun baru Islam bukan sekadar pergantian angka. Ini adalah momen sakral di mana doa-doa dilambungkan ke langit, sementara harmoni antarwarga dijaga erat di bumi.
Yuk, kita intip bagaimana syahdu dan serunya tradisi awal Hijriyah di Kota Pekalongan yang selalu bikin kangen rumah!
1. Gemuruh Doa di Kanzus Sholawat dan Masjid Ar-Roudhoh
| Suasana di Kanzus Sholawat (Sumber : NU Online) |
Sore hari di penghujung bulan Dzulhijjah, suasana Kota Pekalongan biasanya mendadak syahdu. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru, tua maupun muda, mulai memadati dua pusat spiritual utama di kota ini: Gedung Kanzus Sholawat (ndalem Habib Luthfi bin Yahya) dan Masjid Ar-Roudhoh di Kauman.
Momen pergantian tahun ini diisi dengan pembacaan Doa Akhir Tahun menjelang Maghrib, lalu dilanjutkan dengan shalat berjamaah, pembacaan Yasin, tahlil, dan ditutup dengan Doa Awal Tahun. Tidak ada kembang api atau petasan. Kota ini memilih bersimpuh, memohon ampunan atas setahun yang lalu, dan mengetuk pintu langit agar tahun yang baru membawa keberkahan, keselamatan, serta kelancaran rezeki bagi seluruh masyarakat.
2. Semarak Gema Muharram dan Pawai Obor
Pekalongan yang religius juga punya sisi ceria dalam menyambut Hijriyah. Ribuan santri dari puluhan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) se-Kota Pekalongan biasanya berkumpul di area Masjid Jami' Kauman untuk mengikuti festival Gema Muharram.
Tak ketinggalan, di beberapa wilayah kabupaten seperti Kedungwuni, malam 1 Muharram dirayakan dengan karnaval budaya yang sangat meriah. Mulai dari pawai ta'aruf, membawa obor, hingga menampilkan berbagai kreasi ogoh-ogoh atau replika unik. Ini adalah potret nyata bagaimana nilai Islam dan kreativitas budaya pesisiran berpadu dengan indahnya.
3. Kehangatan Rasa di Festival Bubur Suro Krapyak
Bicara soal kuliner khas awal tahun, Pekalongan punya jagoannya sendiri: Bubur Suro. Tradisi ini paling hidup dan lestari di daerah Krapyak, Pekalongan Utara, yang rutin menggelar Festival Bubur Suro.
Filosofi Bubur Suro: Bubur tradisional yang kaya akan bumbu rempah dan disajikan dengan berbagai macam lauk pauk ini bukan sekadar pengisi perut. Bubur Suro adalah simbol rasa syukur kepada Allah SWT dan pengingat akan kisah keselamatan Nabi Nuh AS.
Puncak acara festival ini selalu dinantikan, di mana ribuan warga rela mengantre dan berdesakan demi mendapatkan seporsi Bubur Suro yang dibagikan secara gotong-royong. Rasa buburnya gurih, tapi rasa persaudaraan dan kebersamaan saat menikmatinya itulah yang tiada tanding!
Benang Merah Antara Tradisi dan Sehelai Kain Batik
Melihat bagaimana masyarakat Pekalongan merayakan awal Hijriyah, kita seperti melihat proses pembuatan selembar kain batik. Ada ketelatenan, ada untaian doa di setiap jengkat prosesnya (seperti saat melantunkan doa awal tahun), dan ada keindahan kebersamaan yang terwujud dalam harmoni warna serta motif (seperti guyubnya warga saat berebut Bubur Suro).
Sama seperti secarik batik Pekalongan yang dibuat dengan hati, tradisi awal Hijriyah di kota ini juga dirawat dengan cinta dan penghormatan mendalam terhadap para leluhur.
Bagi semua sobat faaro yang sedang memakai koleksi dari Batik Faaro Pekalongan, ketahuilah bahwa di setiap motif yang kalian kenakan, ada jiwa kota pesisir yang ramah, religius, dan selalu merayakan kehidupan dengan penuh rasa syukur ini.
Selamat Tahun Baru Islam. Semoga lembaran baru kita di tahun ini seindah jalinan motif batik pesisiran yang penuh warna dan makna!
Tags/Labels: Tradisi Pekalongan, Tahun Baru Islam, Bubur Suro Krapyak, Kanzus Sholawat, Batik Faaro Pekalongan, Budaya Jawa.
